Ada Yang Mantap di Sini!

PPC Iklan Blogger Indonesia

Ada Yang Mantap di Sini!

PPC Iklan Blogger Indonesia

Kamis, 10 November 2011

MAKNA LAGU NAHDLATAIN

Lagu Nahdlatain merupakan salah satu karya Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berbentuk sya'ir berjumlah enam buah, terdiri atas empat baris tiap bait, bersajak a,a,a,a atau a,a,b,b dan seluruh baris dalam tiap bait merupakan isi. Tidak ada sampiran dalam bait sya'ir-syair tersebut. Nahdlatain berarti dua perjuangan yaitu Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah  dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah. Wadah tersebut merupakan wadah yang digunakan oleh Kiai Hamzanwadi sebagai tempat menggodok generasi-generasi penerus perjuangan khususnya bagi warga Nahdlatul Wathan. Adapun lagu tersebut berbunyi :
Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem

Bangsaku pacu berguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekte bemudi
Pete sango jelo mudi

Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse
Mun agame nde'ne rase

Mesti te syukur beribu
Ribu-ribu-ribu-ribu
Kemamang pone arak tao'te
Nuntut agamante

Dese Pancor ende'ku lupa'
Budi Bermi ngeno jua'
Taokku ngaji belajar
Bilang jelo atengku sabar

Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku
Madrasahku mudahande
Selamet belo umurde.


4.2. Analisis Diksi
Lagu Nahdlatain merupakan salah satu penggunaan rangkaian kata yang banyak menuangkan ide dan gagasan serta keinginan penulisnya. Kata-kata yang dipergunakan tidak hanya mampu mewakili maksud dan tujuannya saja, melainkan dapat menambah kecintaan  para pembaca dan penikmatnya.
Kata-kata yang dipakai dalam isi lagu tersebut banyak menggunakan diksi. Pemakaian diksi seringkali penyair gunakan dalam akhir bait puisinya. Untuk menyesuaikan rima yang lebih tepat dan menarik bagi penikmatnya. Penempatan kata-kata tertentu secara tepat dan cocok dalam rima akan terasa menarik untuk mengejar nilai estetika.
  Diksi atau pilihan kata merupakan unsur yang sangat penting dalam pembentukan sebuah kalimat untuk menyatakan pikiran dan gagasan seseorang, baik secara lisan ataupun tulisan. Pilihan kata merupakan salah satu unsur yang sangat penting, baik dalam dunia karang mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Diksi dalam lagu tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan persamaan bunyi atau lirik yang baik dan menarik.
Diksi yang digunakan dan akan diteliti oleh penulis dalam lagu Nahdlatain meliputi sinonim, antonim, hipernim, hiponim, makna denotatif, makna konotatif, makna leksikal, gramatikal, kontekstual dan kata majemuk.
1. Sinonim
Secara etimologi kata sinonimi berasal dari Yunani kuno, yaitu anoma yang berarti 'nama', dan syn yang berarti 'dengan'. Maka secara harfiah kata sinonimi berarti nama lain untuk benda atau hal yang sama. Secara semantik Verhaar mendifinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Chaer (1994 : 297) mengatakan bahwa sinonim merupakan hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Berdasarkan pendapat Chaer tersebut dapat disimpulkan bahwa sinonim adalah dua kata atau lebih yang maknanya sama. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.
Sinonim ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada tempat tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Dalam pemakaiannya bentuk-bentuk kata yang bersinonim akan menghidupkan bahasa seseorang dan mengonkretkan bahasa seseorang sehingga kejelasan komunikasi (lewat bahasa itu) akan terwujud. Dalam hal ini pemakai bahasa dapat memilih bentuk mana yang paling tepat untuk dipergunakannya, sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapinya.
Adapun bait-bait yang menggunakan diksi berupa sinonim dalam lagu tersebut adalah sebagai berikut.:
Bangsaku pacu berguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekte bemudi
Pete sango jelo mudi

Kata "bangsa" dan "kaum" dalam bait tersebut mengandung persamaan makna yaitu bisa diartikan kesatuan orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya.
Sinonim seperti di atas, terdapat juga pada bagian pertama bait sya'ir berikut ;
Taokku ngaji belajar
Bilang jelo atengku sabar

"Ngaji" dan "belajar" juga merupakan dua buah kata yang bermakna sama. Kata-kata tersebut jika diartikan akan berarti :1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, 2) berlatih. Ngaji adalah kosa kata bahasa Sasak, sedangkan belajar adalah kosa kata bahasa Indonesia dan bahasa Sasak.
Mengenai sinonim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1.      Tidak semua kata dalam bahasa Indonesia mempunyai sinonim. Misalnya kata beras, salju, batu, dan kuning.
2.      Ada kata-kata yang bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Misalnya kata benar bersinonim dengan kata betul;tetapi kata kebenaran tidak bersinonim dengan kata kebetulan.
3.      Ada kata-kata yang tidak mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memiliki sinonim pada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur ada sinonimnya, yaitu mengerikan; dan berjemur bersinonim dengan berpanas. Contoh lain kata pimpin tidak mempunyai sinonim, tetapi memimpin ada sinonimnya yaitu membimbing, menuntun, mengetuai dan menunjukkan.
4.      Ada kata-kata yang ada dalam arti "sebenarnya" tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti "kiasan" justru mempunyai sinonim. Misalnya kata hitam dalam makna "sebenarnya" tidak ada sinonimnya, tapi dalam arti "kiasan"ada sinonimnya, yaitu gelap, mesum,buruk, jahat, dan tidak menentu.
1.                 Antonim
      Kata antonimi berasal dari kata Yunani Kuno, yaitu onoma yang artinya 'nama', dan anti yang artinya melawan. Maka secara harfiah antonim berarti "nama lain untuk benda lain pula". Secara semantik, Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai :ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Misalnya dengan kata bagus adalah berantonimi dengan kata buruk; kata besar adalah berantonimi dengan kata kecil; dan kata membeli berantonimi dengan kata menjual.
            Antonim sama halnya dengan sinonim, tidak bersifat mutlak. Itulah sebabnya Verhaar menyatakan "...yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Jadi, hanya dianggap kebalikan bukan mutlak berlawanan.
            Hubungan makna antara dua buah kata yang berantonim bersifat dua arah. jadi kalau kata  pidem pada bait di bawah ini, berantonim dengan kata ngase, maka kata ngase juga berantonim dengan kata pidem.
Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem

"Pidem" dan "ngase" adalah dua buah kata yang berantonim, sama-sama berasal dari kosa kata bahasa Sasak. " Pidem" berarti tidur, sedangkan "ngase" berarti bangun. Kalau dibagankan adalah sebagai berikut :



 



Penjelasan di atas sama dengan penjelasan pada bait-bait berikut ini.

Bangsaku pacu berguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekte bemudi 
Pete sango jelo mudi

            Kata-kata seperti "bejulu" dan "bemudi" dalam bait di atas merupakan kata-kata yang berantonim pula dan mengandung anjuran. "Bejulu" merupakan kosa kata Sasak berarti majulah, sedangkan "bemudi" berarti  mundur. Maka bisa diartikan kaum Sasak majulah jangan sampai mundur mencari bekal untuk hari kemudian.
Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse
Mun agame nde'ne rase

Kata-kata seperti "berguna" dan "ende'ne gune" merupakan kata yang berantonim. "Bergune" berarti bermanfaat, sedangkan "ende'ne gune' berarti tidak berguna.
Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku
Madrasahku mudahande
Selamet belo umurde.

Kata "inangku" dan "amangku" adalah kata yang berantonim. "Inangku" adalah kosa kata bahasa Sasak yang berarti ibuku, sedangkan "amangku" berarti ayahku. Inangku berasal dari kata inaq yang merupakan sebutan bagi wanita suku Sasak yang sudah melahirkan, namanya diambil dari putera atau puteri pertamanya. "Amaq" berasal dari kata amaq yaitu sebutan bagi pria suku Sasak yang sudah kawin.

2.                 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

            Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif (Arifin, 2000 : 25).
            Pembedaan makna denotatif dan konotatif didasarkan pada ada atau tidak adanya "nilai rasa' (istilah dari Slamet Mulyana,1964) pada sebuah kata. Setiap kata terutama yang disebut kata penuh, mempunyai makna denotative, tetapi tidak semua kata itu mempunyai makna konotatif.
            Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai "nilai rasa" baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi. Tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual.
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem

Kata pidem, misalnya bermakna mengaso/beristirahat badan dan kesadarannya (tidur). Sedangkan ngase leat kelem diartikan bangun tengah malam. Makna seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata pidem pada kata yang bergaris bawah di atas bisa diartikan "bodoh" dan kata-kata ngase leat kelem bermakna bangkit tatkala orang masih terlena dengan kehidupan dunia.
Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Seringkali sebuah kata menjadi merosot nilai rasanya akibat ulah anggota masyarakatnya dalam menggunakan kata itu yang tidak sesuai dengan makna denotasi atau makna dasar yang sebenarnya.

        Bangsaku pacu berguru

Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekte bemudi
Pete sango jelo mudi

Kata sango jelo mudi kalau dalam bahasa Indonesia berarti bekal hari yang akan datang (terbatas atau bisa ditentukan waktunya ) tetapi sango jelo mudi  berarti juga bekal pada hari kemudian/hari akhirat (konotatif).
Makna-makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu. Misalnya :
setia                             : patuh, taat, teguh hati, tetap pendirian
sedia                            : sanggup, sudah ada, sudah jadi
Makna  konotatif dan denotative berhubungan dengan kebutuhan pemakaian bahasa. Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, peranan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain makna denotative adalah makna yang bersipat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus. Kata yang bergaris bawah pada bait di bawah ini menunjukkan hal itu.
Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse
Mun agame nde'ne ra’se

Kata doe bande yang berarti harta benda, lebih umum daripada kata rumah mewah, mobil taruna dan lain-lain. Kata harta benda/doe bande memberikan gambaran umum tentang harta yang banyak. Akan tetapi, dalam kata rumah mewah  terkandung suatu maksud yang bersifat lebih memukau perasaan kita dan lebih bersifat khusus.
Penggunaan kata-kata yang bermakna konotatif terdapat juga pada bait-bait berikut :
Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse
Mun agame nde'ne ra’se

Kata bangse-bangse yang dimaksudkan oleh penyair pada bait di atas bermakna keturunan bangsawan, menjadi pejabat tinggi. Sedangkan nde'ne ra’se, diartikan tidak terurus. Maka bisa diartikan "tidak perlu menjadi keturunan bangsawan tinggi kalau amal ibadah kita tidak sempurna kita kerjakan".

3.     Hiponim dan Hipernimi
            Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti 'nama' dan hypo berarti 'dibawah'. Jadi, secara harfiah berarti 'nama yang termasuk di bawah nama lain'. Secara semantik Verhaar (1978 : 137) menyatakan hiponim ialah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain. Umpamanya kata taruna adalah hiponim terhadap kata harta benda sebab makna taruna berada atau termasuk bagian dalam  kata harta. Taruna memang termasuk harta benda tetapi harta benda bukan saja taruna melainkan juga termasuk rumah mewah, tanah yang luas, pabrik tekstil, kapal terbang dan sebagainya. Kalau diskemakan menjadi :
harta benda/doe bande





Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune

Kalau relasi antara anatara dua buah kata yang bersinonim, berantonim dan berhomonim bersifat dua arah, maka relasi antara dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah. Jadi, kata bermi pada bait di bawah ini, berhiponim terhadap kata Pancor.Dalam hal ini relasi antara Pancor dengan Bermi disebut hipernim. Jadi kalau Bermi berhiponim terhadap Pancor, maka Pancor berhipernim terhadap Bermi.
Dese Pancor ende'ku lupa'
Budi Bermi ngeno jua'
Taokku ngaji belajar
Bilang jelo atengku sabar
 








4.           Makna Kias
            Dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta ada digunakan arti kiasan. Tampaknya penggunaan istilah arti kiasan ini sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi bentuk seperti inangku-amangku yang dalam bahasa Indonesia berarti ibu-bapakku, berarti tumpuan harapan
          Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku

Madrasahku mudahande

Selamet belo umurde

Kita lihat antara bentuk ujaran dengan makna yang diacu ada hubungan kiasan, perbandingan atau persamaan. Pidem pada bait di bawah ini disamakan dengan bodoh; ende’ne ngase diartikan dengan belum sadar atau insyaf.


Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem


5.           Makna Leksikal, Gramatikal dan Kontekstual

Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem


Makna
Leksikal
Gramatikal
Kontekstual
Nahdlatul Wathan
Madrasah NWDI
(sekarang Mu’allimin)
-
Murid-murid NWDI
Nahdlatul Banat
Madrasah NBDI
(sekarang Mu’allimat)
-
Murid-murid NBDI
Setia
-Patuh, taat
-tetap dan teguh hati
-berpegang teguh dalam pendirian
-
-
Sedia


Ngurasang
-siap
-sanggup, sudi, rela, mau
Membangunkan


-


-

Membangkitkan semangat

Bangun
-bangkit; berdiri
-jaga dari tidur
-
insyaf
Pidem
-tidur
-
Bodoh,malas
Ngase leat kelem
-Bangun tengah malam
-
Sadar dengan dunia kehidupan/tidak berpikir

        Bangsaku pacu berguru

Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndakte bemudi
Pete sango jelo mudi



Makna
Leksikal
Gramatikal
Kontekstual
Bangsa
Kesatuan orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya
-
Bangsa Indonesia
Beguru
belajar
-
Menuntut ilmu
Bejulu/Maju
-Tampil ke muka
-berpikir dengan baik
-
Pandai, berkembang
Bemudi
- surut, mundur,susut
-
Makin berkurang
Sango/Bekal
-modal
-yang disediakan untuk digunakan dalam perjalanan
-
Rajin beribadah
Jelo Mudi
-hari esok
-
Hari kiamat

Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse
Mun agame nde'ne ra’se


Makna
Leksikal
Gramatikal
Kontekstual
Bangse-bangse/Bangsa-bangsa
Kedudukan(keturunan)mulia
-
-
Nde’ne Ra’se/Tidak Terurus
-Tidak diperhatikan
Tidak terlaksana dengan baik
-
-

Mesti te syukur beribu

Ribu-ribu-ribu-ribu

Kemamang pone arak tao'te

Nuntut agamante



Makna
Leksikal
Gramatikal
Kontekstual
Beribu
Beribu-ribu
Menjadi ribuan
Banyak bersyukur
Ribu-ribu-ribu-ribu
Ribuan
Menjadi ribuan
Syukur yang tak terhingga
Kemamang
Syukur (untung)
-
-

Dese Pancor ende'ku lupa'
Budi Bermi ngeno jua'
Taokku ngaji belajar

Bilang jelo atengku sabar




Makna
Leksikal
Gramatikal
Kontekstual
Budi
-Tabiat, akhlak, watak
-Perbuatan baik;kebaikan
-Daya upaya;ikhtiar
-
Jasa

          Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku

         Madrasahku mudahande

Selamet belo umurde


Makna
Leksikal
Gramatikal
Kontekstual
Inangku-amangku
Ibu-bapak/Orang tua kandung
-
Sumber tumpuan harapan

6.           Kata Majemuk
      Diksi atau pilihan kata lain yang terdapat dalam sya'ir lagu Nahdlatain adalah kata majemuk. Kata majemuk merupakan gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan arti.
      Ketentuan dan ciri-ciri kata majemuk :
1.      Terdiri dari dua unsur kata yang mempunyai arti sendiri-sendiri dan bila digabungkan/dibentuk akan menimbulkan pengertian baru.
2.      Bila mendapat awalan, maka ditempatkan pada unsur kata yang depan.
3.      Bila mendapat akhiran, maka ditempatkan pada unsur yang belakang (kata yang akhir).
4.      Bila diulang dalam penulisan atau pengucapan, maka haruslah di ulang seluruhnya.
5.      Dalam kata majemuk dua unsur yang membentuk kata majemuk itu harus diucapkan sekaligus.
6.      Dalam kata majemuk, diantara unsur katanya tidak bisa disisipkan kata lain atau unsur lain.
7.      Dalam kata majemuk, diantara unsur katanya sangat erat hubungannya yang tak dapat dipisahkan atau diubah susunannya.

Selain itu kata majemuk dapat terbentuk atau terjadi karena :
1.      Kedua unsur tersebut mempunyai arti yang berlawanan.
2.      Unsur yang belakang menerangkan unsur yang depan.
3.      Kedua unsur tersebut mempunyai arti yang sama dan berfungsi untuk menguatkan arti.
      Adapun bait-bait yang menggunakan kata majemuk adalah sebagai berikut : 
     Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem

            Kata majemuk yang terdapat dalam bait tersebut adalah "leat kelem". Makna yang dikandung kata majemuk tersebut adalah  waktu tengah malam. Penyair menggambarkan bagaimana keadaan orang-orang yang masih berbaur dengan kebodohan dan ketinggalan zaman.
Bangsaku pacu berguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekte bemudi
Pete sango jelo mudi

Kata majemuk yang terdapat dalam bait di atas bermakna mencari bekal untuk hari kemudian. Pete sango (cari bekal), jelo mudi (hari kemudian).
 Penggunaan kata majemuk seperti di atas, terdapat juga pada bait berikut:
 Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse

        Mun agame nde'ne rase


Kata yang digaris bawahi di atas mengandung makna harta benda tidak akan berguna jika tidak menjalankan syari'at agama dengan baik.
Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku
Madrasahku mudahande
Selamet belo umurde.

Dalam bait di atas, kata-kata yang digaris bawahi merupakan kata majemuk. Belo umur bermakna panjang umur atau usia.

4.3. Analisis Rima
            Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan. (KBBI : 748). Ritme dan rima suatu puisi erat sekali hubungannya dengan sense, feeling, tone, dan intention yang terkandung di dalamnya. Dalam kepustakaan Indonesia, ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur, sedangkan rima atau sajak adalah persamaan bunyi. Ada beberapa jenis rima; antara lain menurut posisinya :
a.       Rima awal
b.      Rima akhir
Bait yang bergarisbawah berikut ini menggunakan rima awal :
Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem

Bangsaku pacu berguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku nde’te bemudi
Pete sango jelo mudi



Mesti te syukur beribu
Ribu-ribu-ribu-ribu
Kemamang pone arak tao'te
Nuntut agamante

Dese Pancor ende'ku lupa'
Budi Bermi ngeno jua'
Taokku ngaji belajar
Bilang jelo atengku sabar

Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku
Madrasahku mudahande
Selamet belo umurde.

Sedangakan yang menggunakan rima akhir adalah sebagai berikut :
Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem

Bangsaku pacu berguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekte bemudi
Pete sango jelo mudi

Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse
Mun agame nde'ne rase

Mesti te syukur beribu
Ribu-ribu-ribu-ribu
Kemamang pone arak tao'te
Nuntut agamante

Dese Pancor ende'ku lupa'
Budi Bermi ngeno jua'
Taokku ngaji belajar
Bilang jelo atengku sabar


Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku
Madrasahku mudahande
Selamet belo umurde.


Sedangkan menurut susunannya rima dapat dibagi atas :
a.       Rima berangkai, dengan susunan rumus : aa, bb, cc, dd.
b.      Rima berselang, dengan rumus : abab, cdcd,.....
c.       Rima berpeluk, dengan rumus : abba, addc
d.      dan lain-lain.
Perulangan bunyi yang cerah, ringan yang menunjukkan kegembiraan serta keceriaan dalam dunia puisi disebut euphony. Biasanya bunyi-bunyi i, e dan a merupakan pleasantness of sound atau keceriaan bunyi itu.
Sebagai lawan dari euphony adalah cacophony, yaitu perulangan bunyi-bunyi yang berat menekan menyeramkan, mengerikan, seolah-olah seperti suara desau atau bunyi burung hantu. Biasanya bunyi-bunyi seperti itu diwakili oleh vocal-vokal o,u,e atau diftong au.

Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si pidem
Nde'ne ngase leat kelem

Bangsaku pacu berguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekte bemudi
Pete sango jelo mudi

Ilmu agame bergune
Doe bande nde'ne gune
Nde'ne perlu bangse-bangse
Mun agame nde'ne rase

Mesti te syukur beribu
Ribu-ribu-ribu-ribu
Kemamang pone arak tao'te
Nuntut agamante

Dese Pancor ende'ku lupa'
Budi Bermi ngeno jua'
Taokku ngaji belajar
Bilang jelo atengku sabar

Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku
Madrasahku mudahande
Selamet belo umurde.


            Kata-kata yang bergaris bawah di atas menggunakan Rima Berangkai dan bersajak aa, bb.
            Dengan demikian kita baru dapat mengetahui kaki sanjak yang terdapat pada setiap larik atau bait sebuah puisi, setelah kita mendengarkan atau membaca puisi tersebut.

0 comments:

Recent Posts

Daftar Blog Saya

The Best

iklan

Related Websites

Ada kesalahan di dalam gadget ini